Penetapan Awal Ramadhan 1431 H (2010), menurut Muhammadiyah & NU


Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Provinsi Jawa Timur memutuskan bahwa 1 Ramadhan 1431 bertepatan dengan tanggal 11 Agustus 2010. Menurut Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PW Muhammadiyah Jatim Ali Mufrodi di Surabaya, Minggu (1/7), penghitungan sistem hisab hakiki di Tanjung Kodok, Paciran, Lamongan, menyebutkan, ijtimak akhir bulan Sya`ban 1431 terjadi pada Selasa (10/8) pukul 10.09 WIB.

“Karena ketinggian hilal saat itu sudah di atas dua derajat, maka kami sepakat menetapkan 1 Ramadhan tahun ini mulai Rabu (11/8),” katanya menegaskan.

Guru Besar Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel, Surabaya, itu menjelaskan, saat matahari terbenam pada 29 Sya`ban itu atau Selasa (10/8) pukul 17.32 WIB, hilal sudah wujud dengan ketinggian antara dua derajat, 43 menit, 11,83 detik hingga dua derajat, 50 menit, 6,57 detik.

Sementara itu, Anshoruddin, anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PW Muhammadiyah Jatim lainnya, menambahkan, selain mengawali puasa pada 11 Agustus, dalam berhari raya diperkirakan genap setelah menjalani puasa 30 hari.

Ia menyatakan bahwa 1 Syawal 1431 akan jatuh pada Hari Jumat (10/9). Dia beralasan, posisi hilal saat terjadi ijtimak akhir Ramadhan masih di bawah ufuk.

Berdasarkan perhitungan, ijtimak akhir Ramadhan 1431 terjadi Rabu (8/9), bertepatan dengan 29 Ramadhan pukul 17.31 WIB.  Saat matahari terbenam hari itu pukul 17.29 WIB, hilal masih di bawah ufuk antara -2 derajat, 5 menit, 53,27 detik hingga -2 derajat, 12 menit, 51 detik.

“Dengan demikian, maka usia bulan Ramadhan akan genap 30 hari,” tutur Anshoruddin menambahkan.

Keputusan Muhammadiyah tentang awal Ramadhan 1431 bertepatan pada 11 Agustus 2010 itu diperkirakan akan sama dengan keputusan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Menurut Wakil Ketua PWNU Jatim, Sholeh Hayat, pihaknya bersama jajarannya sudah menghitung hilal dengan menggunakan 21 metode hisab.

“Dari sekian banyak metode, hasilnya mendekati kesamaan (dengan Muhammadiyah),” kata anggota Fraksi PKB DPRD Jatim itu.

Ia menjelaskan, ijtimak akhir Sya`ban terjadi pada Selasa (10/8) pukul 09.37-10.59 WIB, sedangkan ketinggian hilal saat maghrib sekitar 2,12-3,31 derajat.  Meskipun demikian, pihaknya akan menguatkan hisab itu dengan melihat awal bulan (rukyatul hilal) tersebut di delapan lokasi pada Selasa (10/8) sekitar pukul 17.30 WIB.

“Beberapa lokasi di antaranya di Bukit Giri (Gresik), Gebang (Bangkakan), dan Serang (Blitar),” kata Sholeh menambahkan.

Artikel di atas diambil dari : http://koranbaru.com

Artikel di atas, baik Muhammadiyah maupun NU menyatakan bahwa 1 Ramadhan adalah 11 Agustus 2010. Tapi yang menjadi pemikiranku saat ini adalah :

  • Yang menyatakan adalah PW Muhammadiyah & PWNU Jatim, bagaimana dengan daerah lain ?
  • Ijtimak akhir bulan Sya`ban 1431 terjadi pada Selasa (10/8) pukul 10.09 WIB, secara hisab hakiki, besoknya sudah tanggal 1.
  • Selasa (10/8) pukul 17.32 WIB pada saat matahari terbenam, hilal sudah wujud dengan ketinggian antara 2º 43′ 11,83″ hingga 2º 50′ 6,57″, wujud tersebut sangat sulit untuk dilihat mata.

Post Update :
Date : Wednesday, October 1, 2014 - Rabu, 1 Oktober 2014
Posted in: umum
Lazada Indonesia

Lazada Indonesia

Related posts "Penetapan Awal Ramadhan 1431 H (2010), menurut Muhammadiyah & NU":


5 Comments on "Penetapan Awal Ramadhan 1431 H (2010), menurut Muhammadiyah & NU"

Trackback | Comments RSS Feed

  1. Hidayatullah says:

    Bismillah,
    Demikianlah bid’ah hisab, setiap bidah itu pasti sesat dan kesesatan itu finnaar.
    jika saja mau mengikuti sunnah dari rosululloh maka tidak akan sulit untuk menentukan hilal dan awal romadhon karena rosululloh tidak membebani melihat hilal kecuali dengan mata telanjang saja.
    Jika berlebih-lebihan dnegan melakukan hitung2an yang datangnya bukan dari sunnah atau melakukan ruyah dengan telescope maka hanya membuat perkara baru saja dan menyusahkan diri dengan apa yang tidak dibebani oleh sunnah yang sesungguhnya mudah.

    Allohul mustaan.

    [Reply]

    ariefew Reply:

    Perbedaan pendapat tentang “perhitungan” selalu dikaitkan dengan awal Ramadhan dan awal Syawal….
    Tapi selama ini kok gak pernah dengar tentang perbedaan pendapat jadwal sholat….
    Saat ini hampir semua masjid tidak ada lingkaran yg tengahnya ada tonggaknya utk menentukan waktu sholat. Semua masjid selalu ditempel “jadwal sholat hari ini”, “jadwal sholat bulan ini”……
    Apakah matahari boleh dilakukan “perhitungan” dan bulan tidak boleh dilakukan “perhitungan” ?
    Apa itu juga termasuk bid’ah ?

    [Reply]

    rachmat Reply:

    Apa itu bid’ah hisab?? tidak ada itu istilah bid’ah hisab.
    melakukan hitung-hitungan bukanlah berlebihan. itu adalah ilmu pengetahuan yg bisa dijadikan rujukan sesuai dengan kebenaran. itulah sebabnya kita diberi akal untuk berpikir. Mata telanjang jelas memiliki keterbatasan dalam memahami alam semesta yang maha luas ini. menurut saya, sdr Hidayatullah hanya asal omong tanpa memiliki ilmu apapun tentang hisab.

    [Reply]

    abdulsabar86 Reply:

    Ini jaman kuno masih nginceng2 bulan ,ngga lihat bulannya ,padahal maunya lihat pantat armstrong austronaut dari amerika itu

    [Reply]

  2. ariefew says:

    Jangan lupa bahwa perbedaan pendapat juga membuat kita berpikir ….

    Penerapan Hisab lainnya :
    Kenapa ada gerhana bulan & gerhana matahari ?
    Kenapa umat Islam di perintahkan sholat gerhana ?
    Apa hanya sholat gerhana aja ? Apa tidak ada maksud tertentu dari Nya ?

    [Reply]

Post a Comment


6 − 3 =