Awal Puasa dan Lebaran Beda = Hisab vs Rukyat ?


Awal Puasa dan Lebaran Beda = Hisab vs Rukyat

Judul di atas merupakan anggapan masyarakat umum pada terjadinya perbedaan awal puasa (1 Ramadhan) dan Lebaran (1 Syawal) dikarenakan adanya perbedaan 2 golongan besar yaitu Muhammadiyah dan NU yang menggunakan metode hisab dan rukyat.

Awal Puasa dan Lebaran Beda = Hisab vs Rukyat ?

Hisab merupakan perhitungan matematis (algoritma) dari pergerakan benda langit khususnya Bulan dan Matahari (astronomi). Metode hisab ini biasa diidentikkan dengan metode yang dianut oleh Muhammadiyah.

Rukyat merupakan observasi benda langit khususnya Bulan dan Matahari secara sistematis sehingga menghasilkan data-data posisi yang bisa diperbandingkan dengan observasi sebelum atau sesudahnya. Metode rukyat ini biasa diidentikkan dengan metode yang dianut NU.

Antara hisab dan rukyat sering dianggap sebagai dua hal terpisah antara satu dengan yang lainnya. Pihak yang menggunakan hisab maupun yang menggunakan rukyat sama-sama mengukuhkan pendapatnya dengan justifikasi sejumlah dalil baik merujuk al-Qur’an maupun al-Hadits.

Awal Puasa dan Lebaran Beda = Hisab vs Rukyat ?

Kalau kita telaah lebih dalam lagi masalah perbedaan awal puasa dan lebaran, sangatlah tidak layak menyalahkan atau membenarkan metode hisab atau metode rukyat. Secara konseptual hisab dan rukyat merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Hisab yang merupakan perhitungan astronomi, menghasilkan prediksi waktu, posisi, arah yang bermanfaat dalam pelaksanaan hilal atau rukyat.  Dan sebaliknya, hasil rukyat akan berupa data-data posisi yang nantinya bisa dikomparasikan dengan hisab. Jadi, ilmu hisab tidak akan pernah ada tanpa adanya rukyat. Dan rukyat-pun tidak akan akurat dan cepat bidikannya tanpa adanya hisab.

Penerapan Kolaborasi Hisab dan Rukyat

Pada ibadah sehari-hari, sebenarnya tanpa kita sadari sudah menerapkan kolaborasi antara hisab dan rukyat. Kalau pada jaman dahulu, umat muslim melakukan penglihatan langsung pada matahari saat terbit dan tenggelam serta menggunakan bantuan tonggak untuk siang (duhur) dan sore (ashar). Pada waktu itu, di setiap masjid pasti terdapat sebuah tonggak yang digunakan untuk mengukur bayang-bayang matahari.

Dan coba kita lihat saat ini. Saat ini, di masjid-masjid sudah tidak kita temui lagi tonggak-tonggak penentu waktu sholat tersebut. Di setiap masjid saat ini tonggak-tonggak tersebut sudah berganti menjadi lembaran jadwal sholat selama 1 bulan bahkan sampai 1 tahun. Dari mana asal jadwal sholat tersebut? ya.. memang dari perhitungan astronomis. Sebuah hasil dari ilmu falaq. Hasil  gemilang yang telah dibangun oleh cendekiawan Muslim dalam kurun waktu sangat panjang. Suatu penerapan kolaborasi pengamatan Matahari dan hisab.

Kenapa Awal Puasa dan Lebaran Beda

Lalu sekarang kita kembali lagi ke masalah awal puasa dan lebaran. Dalam menentukan awal puasa Ramadhan dan Lebaran Idul Fitri, secara umum di Indonesia ada dua yaitu hisab dan rukyat. Tapi kalau kita perhatikan lebih jauh, sesungguhnya rukyat sudah mulai tergantikan dengan imkanul rukyah yaitu perhitungan kemungkinan Bulan terlihat. Jadi sekarang, penyebab perbedaan awal puasa dan lebaran itu bukan lagi karena hisab dan rukyat, melainkan antara dua kriteria hilal, yakni wujudul hilal dan imkanul rukyah saja sekarang.

Wujudul hilal yaitu kriteria menyatakan hilal adalah Bulan pasca konjungsi yang terbenam lebih lambat dibanding Matahari, atau memiliki Lag > 0 menit (Lag = waktu terbenamnya Bulan dikurangi waktu terbenamnya Matahari).

Imkanul rukyah yaitu kriteria yang tidak hanya menyaratkan Bulan terbenam lebih lambat dibanding Matahari, namun juga menyaratkan umur atau batas ketinggian sehingga hilal adalah Bulan dengan umur minimal 8 jam pasca konjungsi atau tinggi nampaknya (mar’i) 2 derajat (memiliki Lag > 16 menit).

Kalau sekarang yang dipakai sebagai penentuan awal puasa dan lebaran adalah wujudul hilal dan imkanul rukyah yang kedua-duanya merupakan metode hisab atau perhitungan astronomi, maka tidak ada yang diributkan lagi kan…. tidak perlu dalil-dalil yang merujuk al-Qur’an dan al-Hadits lagi kan…. hehehe

Semua golongan umat muslim Indonesia seharusnya tidak mengabaikan masalah perbedaan pendapat awal puasa dan lebaran, dengan berlindung pada kata-kata toleransi. Semua golongan harus mau duduk bersama, membentuk tim perumus yang membahas persoalan ini dari segenap aspek. Keputusan tunggal harus terjadi supaya tidak terjadi lagi awal puasa dan lebaran beda


Post Update :
Date : Friday, July 25, 2014 - Jumat, 25 Juli 2014
Posted in: umum



Related posts "Awal Puasa dan Lebaran Beda = Hisab vs Rukyat ?":


5 Comments on "Awal Puasa dan Lebaran Beda = Hisab vs Rukyat ?"

Trackback | Comments RSS Feed

  1. Thoyib says:

    Kalo aku sih, menyerahkan sesuai dengan keyakinan masing2 orang…..
    Ambil gampangnya, Hehehehehe………..

    [Reply]

  2. OM Kris says:

    Hemmm masalah yang sudah umum terjadi dari dulu tapi susah juga dapaet jawaban pastinya, kalau aku jujur masih sama ngikut keluarga..tapi bener juga kata mas toyib diatas, walaupun aku ngikut keluarga tapi aku percaya :)

    [Reply]

  3. jali says:

    ya udah dah jangan pada ribut napa kan kasihan
    yai lah kalo gitu jnagn pada marah2 kali terutama pada agama

    [Reply]

  4. Cacar says:

    Oh gitu gan caranya makasih nih informasinya sangat berguna sekali gan…

    [Reply]

  5. bakri syam says:

    pengamatan hilal itu khusus untuk puasa ramadan, untuk bulan yang lainnya dalam kalender hijriah cukup dilakukan hisab saja. tetapi titik nol perjalanan bulan mengelilingi bumi menurut ilmu agama bukan pada cunjungsi.demi jelasnya baca rotasi bulan.blogspot.com.bakrisyam

    [Reply]

Post a Comment


7 + = 11