1 Syawal 1432 H berdasarkan Hisab dan Rukyah Beda


1 Syawal 1432 H berdasarkan Hisab dan Rukyah kemungkinan Berbeda

Dari informasi yang kita terima dan kita baca akhir-akhir ini, kemungkinan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H ada perbedaan penetapan. Hal ini disebabkan ketinggian bulan (moon altitude) pada tanggal 29 Agustus kurang dari 2 derajat sehingga tak memungkinkan hilal terlihat dengan mata telanjang.

Apa sih yang dimaksud dengan informasi di atas tersebut ? Sekarang mari kita sedikit belajar bersama-sama tentang ilmu hisab atau astronomi ini. Tapi sebelum melangkah lebih jauh silahkan di download dulu program MoonTools for Windows di artikel Perhitungan Matahari dan Bulan dengan SunMoon atau Perhitungan Matahari dan Bulan – Astronomical Algorithms.

1 Syawal 1432 H berdasarkan Hisab dan Rukyah Beda

Konjungsi atau Ijtimak atau bulan baru (new moon) akan terjadi pada Senin 29 Agustus 2011 pukul 10:05:14 WIB (wilayah Surabaya). Coba stop auto timer [no.1] dan set jam secara manual sampai umur bulan (age of moon) menjadi 0 (ijtimak) [no.2].

1 Syawal 1432 H berdasarkan Hisab dan Rukyah Beda

Pada tanggal 29 Agustus tersebut Matahari terbenam (Sunset) pukul 17:28:39 WIB (wilayah Surabaya)[no.3]. Set manual jam menjadi 17:28:39  [no.4] dan di situ ketinggian bulan (moon altitude) menunjukkan 1° 3′ 47″ [no.5]. Pada kondisi ini, secara astronomis hilal mustahil dapat di rukyah atau hilal tidak akan terlihat.

Sekarang mari kita cek visibilitas (penampakan) Hilal pada hari terjadinya Ijtimak selepas Matahari terbenam di seluruh dunia.  Kita bisa menggunakan software Accurate Times buatan Mohammad Odeh dengan mengunakan kriteria Odeh (adopsi Limit Danjon sebesar 6° untuk syarat ketinggian hilal agar terlihat dengan mata telanjang)

1 Syawal 1432 H berdasarkan Hisab dan Rukyah Beda

atau kriteria SAAO yang lebih rendah lagi.

1 Syawal 1432 H berdasarkan Hisab dan Rukyah Beda

Lihat kedua gambar di atas. Arsiran warna hijau merupakan daerah yang bisa melihat hilal pada saat itu (29/8). Dan wilayah Indonesia merupakan daerah yang mustahil melihat hilal walaupun menggunakan teropong.

Itulah sedikit gambaran informasi tentang Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H yang menyebutkan bahwa tanggal 29 Agustus 2011 Hilal belum terlihat karena ketinggian bulan masih dibawah 2 derajat.

1 Syawal 1432 H berdasarkan Hisab dan Rukyah Beda

Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H ini besar kemungkinan akan mengalami perbedaan. Pemerintah (Isbat) yang diperkirakan menetapkan 1 Syawwal 1432 H jatuh pada Rabu, 31 Agustus 2011 berbeda dengan keputusan Muhammadiyah yang sejak awal menetapkan 1 Syawwal jatuh pada Selasa, 30 Agustus 2011. Sedangkan NU, Persis dipastikan akan mengikuti keputusan pemerintah yaitu berlebaran pada Rabu, 31 Agustus 2011 karena kriteria yang mereka pergunakan menghasilkan kesimpulan yang sama dengan pemerintah.

Apa yang menyebabkan perbedaan tersebut ?

Sekarang mari kita ulas satu persatu kriteria yang digunakan untuk menentukan Hilal.

Rukyat Hilal ( Visibilitas Hilal )

Melihat lokasi Indonesia menurut peta visibilitas hilal di atas, maka seluruh wilayah Indonesia mustahil dapat menyaksikan hilal pada hari pertama ijtimak sore setelah Matahari terbenam (29/8). Dengan mata telanjang, Hilal baru mungkin dirukyat pada hari kedua ijtimak (30/8). Dengan demikian maka diberlakukan ISTIKMAL sehingga 1 Syawal 1432 H akan jatuh pada: Rabu, 31 Agustus 2011.

Hisab Imkanur Rukyat

Pemerintah RI melalui pertemuan Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) menetapkan kriteria yang disebut Imkanur Rukyah yang dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan bulan pada  Kalender Islam negara-negara tersebut.

Hilal dianggap terlihat dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut:

  1. Ketika Matahari terbenam, ketinggian Bulan di atas horison tidak kurang dari 2° dan
  2. Jarak lengkung Bulan-Matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3°. Atau
  3. Ketika Bulan terbenam, umur Bulan tidak kurang dari 8 jam selepas konjungsi/ijtimak berlaku.

Belakangan kriteria ini hanya dipakai oleh Indonesia dan Malaysia sementara Singapura menggunakan Hisab Wujudul Hilal dan Brunei Darussalam menggunakan Rukyat Hilal berdasar Teori Visibilitas.

Menurut Peta Ketinggian Hilal tersebut, pada hari pertama ijtimak syarat Imkanurrukyat MABIMS belum terpenuhi. Dengan demikian  diberlakukan ISTIKMAL sehingga 1 Syawal 1432 H jatuh pada : Rabu, 31 Agustus 2011.

Hisab Wujudul Hilal

Kriteria Wujudul Hilal dalam penentuan awal bulan Hijriyah  menyatakan  bahwa : “Jika setelah terjadi ijtimak, bulan terbenam setelah terbenamnya matahari maka malam itu  ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah tanpa melihat berapapun sudut ketinggian bulan saat matahari terbenam”. Berdasarkan posisi hilal saat matahari terbenam di beberapa bagian wilayah Indonesia maka syarat wujudul hilal sudah terpenuhi.  Maka 1 Syawal 1432 H ditetapkan jatuh pada : Selasa, 30 Agustus 2011.

Kalender Hijriyah Global

Universal Hejri Calendar (UHC) merupakan Kalender Hijriyah Global usulan dari Komite Mawaqit dari Arab Union for Astronomy and Space Sciences (AUASS) berdasarkan hasil Konferensi Ke-2 Atronomi Islam di Amman Jordania pada tahun 2001. Kalender universal ini membagi wilayah dunia menjadi 2 region sehingga sering disebut Bizonal Hejri Calendar. Zona Timur meliputi  180° BT ~ 20° BB sedangkan Zona Barat meliputi 20° BB ~ Benua Amerika. Kriteria yang digunakan tetap mengacu pada visibilitas hilal (Limit Danjon).

Pada hari pertama ijtimak zone Barat maupun zone Timur belum masuk dalam kriteria Limit Danjon. Dengan demikian 1 Syawal 1432 H di masing-masing zona akan jatuh pada : Zona Timur :  Selasa, 30 Agustus 2011. Zona Barat : Rabu, 31 Agustus 2011.

Rukyat Hilal Saudi

Kurangnya pemahaman terhadap perkembangan dan modernisasi ilmu falak yang dimiliki oleh para perukyat sering menyebabkan terjadinya kesalahan identifikasi terhadap obyek yang disebut “Hilal” baik yang “sengaja salah” maupun yang tidak disengaja. Klaim terhadap penampakan hilal oleh seeorang atau kelompok perukyat pada saat hilal masih berada di bawah “limit visibilitas” atau bahkan saat hilal sudah di bawah ufuk sering terjadi.  Sudah bukan berita baru lagi bahwa Saudi kerap kali melakukan sidang istbat terhadap laporan rukyat yang “kontroversi” tersebut.

Kalender resmi Saudi yang dinamakan “Ummul Qura” yang telah berkali-kali mengganti kriterianya hanya diperuntukkan sebagai kalender untuk kepentingan non ibadah. Sementara untuk ibadah Saudi tetap menggunakan rukyat hilal sebagai dasar penetapannya. Sayangnya penetapan ini sering hanya  berdasarkan pada laporan rukyat dari seseorang tanpa terlebih dahulu melakukan klarifikasi dan konfirmasi terhadap kebenaran laporan tersebut apakah sudah sesuai dengan kaidah-kaidah sains astronomi modern yang diketahui memiliki tingkat akurasi yang sangat tinggi.

Diagram ketinggian Hilal di Mekkah pada hari pertama ijtimak.

Menurut Kalender Ummul Qura’ :

Kalender ini digunakan Saudi bagi kepentingan publik non ibadah. Kriteria yang digunakan adalah “Telah terjadi ijtimak dan bulan terbenam setelah matahari terbenam di Makkah” maka sore itu dinyatakan sebagai awal bulan baru. Pada hari pertama ijtimak/konjungsi kondisinya sudah memenuhi syarat. Dengan demikian 1 Syawal 1432 H akan jatuh pada : Selasa, 30 Agustus 2011.

Menurut Kriteria Rukyatul Hilal Saudi :

Rukyatul hilal digunakan Saudi khusus untuk penentuan bulan awal Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah. Kaidahnya sederhana “Jika ada laporan rukyat dari seorang atau lebih pengamat/saksi yang dianggap jujur dan bersedia disumpah maka sudah cukup sebagai dasar untuk menentukan awal bulan tanpa perlu perlu dilakukan uji sains terhadap kebenaran laporan tersebut”.

Melihat posisi Hilal, mustahil rukyat di Saudi pada hari pertama ijtimak  Namun demikian jika ada yang mengaku berhasil maka 1 Syawal 1432 H akan jatuh pada : Selasa, 30 Agustus 2011.

Namun jika laporan rukyat gagal (harusnya) maka awal bulan akan jatuh pada: Rabu, 31 Agustus 2011.

Awal Bulan Negara-negara Lain

Seperti kita ketahui secara resmi Indonesia bersama Malaysia, Brunei dan Singapura lewat pertemuan Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) telah menyepakati sebuah kriteria bagi penetapan awal bulan Komariyahnya yang dikenal dengan “Kriteria Imkanurrukyat MABIMS” yaitu umur bulan > 8 jam, tinggi bulan > 2° dan elongasi > 3°. Belakangan ternyata kriteria ini hanya digunakan oleh Indonesia dan Malaysia.

Menurut catatan Moonsighting Committee Worldwide ternyata penetapan awal bulan ini berbeda-beda di tiap-tiap negara. Ada yang masih teguh mempertahankan rukyat bil fi’li ada pula yang mulai beralih menggunakan hisab atau kalkulasi. Berikut ini beberapa gambaran penetapan awal bulan Komariyah yang resmi digunakan di beberapa negara :

  1. Rukyatul Hilal berdasarkan kesaksian Perukyat  (Qadi) serta dilakukan pengkajian ulang terhadap hasil rukyat secara ilmiah antara lain dilakukan oleh negara-negara : Banglades, India, Pakistan, Oman, Maroko, Trinidad dan Brunei Darussalam.

  2. Hisab dengan kriteria bulan terbenam setelah Matahari dengan  diawali ijtimak terlebih dahulu (moonset after sunset). Kriteria ini digunakan oleh  Saudi Arabia pada kalender Ummul Qura namun khusus untuk Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah menggunakan pedoman rukyat.

  3. Mengikuti Saudi Arabia misalnya negara : Qatar, Kuwait, Emirat Arab, Bahrain, Yaman dan Turki, Iraq, Yordania, Palestina, Libanon dan Sudan.

  4. Hisab bulan terbenam minimal 5 menit setelah matahari terbenam dan terjadi setelah ijtimak  digunakan oleh Mesir.

  5. Menunggu berita dari negeri tetangga –> diadopsi oleh Selandia Baru  mengikuti  Australia dan Suriname mengikuti negara Guyana.

  6. Mengikuti negara Muslim yang pertama kali berhasil rukyat  –> Kepulauan Karibia

  7. Hisab dengan kriteria umur bulan, ketinggian bulan atau selisih waktu terbenamnya bulan dan matahari –> diadopsi oleh Algeria, Turki, Tunisia dan Malaysia.

  8. Ijtimak Qablal Fajr atau terjadinya ijtimak sebelum fajar  diadopsi oleh negara Libya.

  9. Ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam di Makkah dan bulan terbenam sesudah matahari terbenam di Makkah –> diadopsi oleh komunitas muslim di Amerika Utara dan Eropa (ISNA)

  10. Nigeria dan beberapa negara lain tidak tetap menggunakan satu kriteria dan berganti dari tahun ke tahun

  11. Menggunakan Rukyat Mata Telanjang : Namibia, Angola, Zimbabwe, Zambia, Mozambique, Botswana, Swaziland dan Lesotho.

  12. Jamaah Ahmadiyah, Bohra, Ismailiyah,  serta beberapa jamaah (tarekat) lainnya masih menggunakan hisab urfi yang sangat sederhana.

Berikut sedikit informasi tentang terjadinya perbedaan dalam menentukan 1 Syawal 1432 H yang selama ini terjadi. Semoga perbedaan ini menjadikan kita semua saling belajar tanpa ada rasa saling memojokkan golongan lainnya. Amien.

Pustaka :

 


Post Update :
Date : Tuesday, July 29, 2014 - Selasa, 29 Juli 2014
Posted in: programming



Related posts "1 Syawal 1432 H berdasarkan Hisab dan Rukyah Beda":


20 Comments on "1 Syawal 1432 H berdasarkan Hisab dan Rukyah Beda"

Trackback | Comments RSS Feed

  1. cak wigi says:

    Amin semoga ini juga menambah ilmu kita semua dan saya pun pernah menghitung hal ini dengan teman saya yang mengerti ilmu hisab dan hasil nya silakan di cek di sini

    http://sepung.blogdetik.com/2011/07/28/cara-menghitung-1-syawal-1432-hijrah-jatuh-pada-hari-selasa-30-agustus-2011/

    [Reply]

  2. prim says:

    mas…izin di copas ke webblog masjid yg sy kelola dgn melampirkan sumbernya….

    [Reply]

  3. slemanonline says:

    kira-kira kalau yang punya website memlih tanggal 30 atau 31 ya? mohon pencerahannya bagi saya yang orang awam. terima kasih.

    [Reply]

  4. salahkamar says:

    Berarti untuk wilayah Indonesia 1 syawal jatuh pada 31 Agustus ya om. Saya dari dulu ikut ketetapan pemerintah

    [Reply]

  5. Faisal says:

    Sukron. Terima Kasih atas informasi yang sangat bermanfaat. Inti perbedaan hanya terletak kepada ketidak samaan teknis penentuan awal bulan.

    Kelihatannya semuanya benar..karena bumi bulat dan beda ketinggian…titik penentuan tanggal 1 suatu wilayah tentu saja bisa berbeda dengan wilayah lain dan juga akibat perbedaan siang dan malam…

    Menurut Imam Ahmad ” Umat berbuka bersama penguasa” artinya yang punya otoritas itu pemerintah..Adapun ormas pada prinsipnya hanya memberi data kepemerintah..Pemerintahlah yang MEMUTUSKAN…

    Faisal

    [Reply]

  6. tukiman says:

    dari zaman nabi dan khalifa sudah ada perdebatan kapan 1 syawal, namun meski ada perdebatan tetap dicapai kata mufakat, sehingga tidak ada kata2 dari nabi maupun khalifah “yang mau lebaran hari ini silakan, yang mau lebaran besok silakan”

    gak ada tuch..?!@#??

    [Reply]

  7. vivi oemar says:

    Alhamdulillah..terima kasih atas infonya…semoga semua saling memahami

    [Reply]

  8. Fithriati Abdulkahar says:

    Terima kasih atas informasinya.., sangat bermanfaat dan membuka wawasan..

    [Reply]

  9. nia says:

    keren sekali infonya…thx yaaa..

    [Reply]

  10. heye says:

    MUi baru mengumumkan hari ini kemungkinan perbedaaanya

    [Reply]

  11. malik says:

    perbedaan adalah sebuah kewajaran….

    [Reply]

  12. Habib Noer Qolbi says:

    Mohon..
    ╔═╦═╗─────╔═╗╔╗───╔╗╔╗──╔══╗──╔╗╔╗
    ║║║║╠═╗╔═╗║═╣║║╔═╗║╚╬╬╦╗║╔╗╠═╗║╚╬╬═╦╗
    ║║║║║╬╚╣╬╚╣╔╝║╚╣╬╚╣║║║╔╝║╔╗║╬╚╣╔╣║║║║
    ╚╩═╩╩══╩══╩╝─╚═╩══╩╩╩╩╝─╚══╩══╩═╩╩╩═╝
    Pokone kapen aje bleh…..yg penting Oceh…

    [Reply]

  13. ekanata says:

    Jika saat menjelang bulan terbenam, sudah dapat diperhitungkan arah posisi matahari relatif thd bulan, dan kemampuan zooming teleskop sudah mampu untuk menangkap berkas cahaya yg tdk terlalu terang, maka bisa donk teleskopnya di zoom kan ke bagian pinggiran bulan yg diperhitungkan akan terbentuk hilalnya? Jika teknologi zooming optik terus makin berkembang, bisa donk limit 2% nya lebih diturunkan lagi?

    Btw, thanks atas paparannya yg cukup lengkap :)

    [Reply]

    fadlal Reply:

    sedikit koreksi mas mngkn yg mas maksud 2 derajat bukan 2%.. klo mnurut yang ahli astronomi malah 2 derajat itu dirasa msh kurang dan mngusulkan untuk di revisi lebih dari dua derajat.
    di zaman Nabi saw, melihat hilalitu dengan mata telanjang,. diperkirakan tinggi hilal yang mampu di tangkap adalah juga kurang lebih sekitar 9 atau 10 derajat di atas ufuk.

    [Reply]

    fadlal Reply:

    mohon maaf bila saya salah dan mohon di koreksi bila saya salah..

    [Reply]

  14. moko says:

    …assalamu ‘alaikaum.
    berapa jam perbedaan waktu Indonesia dan Saudi?..
    apakah tahun ini akan sama dgn tahun kemarin?..
    perbedaan waktu dan metode telah mangakibatkan sela waktu pelaksanaa solat Idhul Adha selang dua hari setelah lempar jumrah..

    [Reply]

  15. Eka Machrudi says:

    aku baru yang ini.. hihihihi

    [Reply]

  16. Hasan Basri says:

    kalo zaman nabi dulu teknologi belum berkembang seperti sekarang makanya harus dilihat dg mata telnjang, taaapiii hari gini kalo msh ngandlein ro’yu bilfi’li kapan umat islam maju ipteknya….

    [Reply]

  17. Anggoro says:

    Mas, bagus sekali pembahasan di artikelnya. Saya jadi tahu mengenai masalah rukyat dan hisab ini. Tadinya saya ingin membeli buku, tapi… Jazakumullah Ahsana Mas. Izin copy dan paste ya ?

    [Reply]

  18. bakri syam says:

    rukyat itu khusus untuk puasa ramadan untuk bulan yang lainnya cukup dilakukan hisab saja. tetapi titik nol rotasi bulan terhadap bumi menurut ilmu agama bukan pada cunjungsi. jelasnya baca rotasi bulan blogspot.com bakrisyam

    [Reply]

Post a Comment


7 + 1 =