Kumpulan Puisi Rudi Setiawan di Kompas


KEBO

kemana kau pergi
sawahku merinduimu
seperti saat-saat dahulu
kau tinggalkan jejak kakimu
diatas lumpurnya yang becek dan bau

Doha, 4 February 2010

CAHAYA DIATAS CAHAYA

(Nuurun ‘Alaa Nuur)

Kutulis syair ini
Kala rembulan purnama
Dari pantulan cahayanya kupunguti kata demi kata
Langit merona merah jingga
Desir angin mengalunkan simponi nada

Empat serigala muncul dari dalam jiwaku
Mengabariku tentang kisah kematian
Tentang anekdot-anekdot kehidupan
Tentang “TUHAN” yang semakin jauh dari dekapan

Di hulu subuh yang senyap ini
Saat mata kepalaku disergap oleh kantuk yang melanda
Mata hatiku masih ingin berbicara
Bercerita tentang gelisah hati dan kerinduan jiwa

Cahaya rembulan
Mengingatkanku pada “MAHA CAHAYA” keindahan
Yang karena-Nya kehidupan ini tertata begitu sempurna

Cahaya diatas Cahaya
Nuurun ‘Alaa Nuur
Percikan-percikan-Mu menerangi jiwa-jiwa yang gulita
Menyibak segala gelap yang berlapis-lapis

Cahaya diatas Cahaya
Nuurun ‘Alaa Nuur
Dari balik kabut pekat jiwaku
Ijinkan aku mengintip keindahan Cahaya-Mu

Allaahu Nuurus samaawaati wal ardli

Doha, 31 January 2010

SAJAK MERAH PUTIH

Wahai merah putih
Apakah merahmu masih benar-benar merah
Semerah darah para pejuang yang membanjiri bumi pertiwimu

Wahai merah putih
Apakah putihmu masih benar-benar putih
Putih yang suci, sesuci jiwa para leluhur bangsa yang dengan tulus menegakkanmu

Wahai merah putih
Merahmu adalah lambang keberanian, kejantanan dan keperkasaan
Putihmu adalah simbol keluhuran budi pekerti, ketulusan hati dan kejernihan jiwa

Wahai merah putih
Selama kau masih berkibar diujung-ujung tiang yang tinggi menjulang
Dari kota Merauke sampai ke kota Sabang
Maka negeri ini masih bernama Indonesia

Wahai merah putih
Tanahmu kini tak lagi dihuni oleh para pemberani dan pejantan sejati
Melainkan sekumpulan pengecut yang kecil hati dan selalu menetek pada majikan-majikan dari Barat

Wahai merah putih
Bumimu kini tak lagi dipimpin oleh orang-orang yang tulus dan jernih hati
Melainkan segerombolan serigala yang rakus dan tega memakan mayat saudaranya sendiri

Wahai merah putih
Kini kau mulai koyak dimana-mana dan kibaranmu pun tak lagi bermakna
Warnamu mulai kusam dan memudar dipenuhi oleh kotoran dan noda
Tiang penyanggamu mulai lapuk digerogoti rayap-rayap bermulut busuk

Wahai merah putih
Akan kubakar kau, agar merahmu semakin membara
Menyala benderang membakar keberanianku dan membangkitkan kejantananku
Lalu aku akan berteriak: “AKU BANGGA MENJADI ORANG INDONESIA”

Doha, 2 February 2010

KUPANGGIL KAU DANCUK

Dancuk,
Kau rampas hak-hak kaum terindas
Dan kau malah tertawa terbahak-bahak

Dancuk,
Kau gusur rumah-rumah orang miskin
Dan kau justru menari kegirangan

Dancuk,
Kau minta kenaikan gajimu yang sudah tinggi
Dan kau abaikan derita rakyatmu yang lapar

Dancuk,
Kau jual kekayaan negerimu pada penjarah-penjarah asing
Dan kau biarkan rakyatmu menjadi budak di negeri orang

Dancuk,
Kau perkosa hukum dengan birahi-birahi liarmu
Sementara rakyat kecil mesti membayar untuk membeli keadilan

Dancuk,
Kau jual belikan undang-undang laiknya barang dagangan
Selanjutnya kau akan berkata ini adalah untuk kepentingan rakyat

Dancuk,
Wajahmu yang buruk, kau sembunyikan dibalik topeng kesantunan
Dan celakanya rakyatmu yang bodoh menjadi terpesona

Dancuk,
Lidahmu yang busuk, kau poles dengan untaian permata
Lalu kau tebarkan janji-janji palsu diseluruh pelosok negara

Dancuk,
Keringatmu yang tengik, kau luluri dengan parfum-parfum mahal
Yang seharga kebutuhan makan sebulan wargamu di kolong jembatan

Dancuk,
Ku serapahi kau dengan caci maki agar kau mau mengerti
Tapi bila ternyata kau tak juga mau mengerti, akan kusumpahi kau dengan “CINTA”

Doha 1 February 2010

JEJAK KASIH SEORANG IBU

Ibu,
Terekam jejak-jejak indahmu kala membentukku menjadi seperti sekarang ini
Jejak-jejak kasihmu yang harum mewangi tak akan pernah kulupakan
Saat aku masih ringkih dan lemah
Kau tatih aku, kau gendong aku, kau dekap aku dengan kehangatan cintamu
Ketulusan yang kau tanamkan pada jiwa dan ragaku
Menjadi energi yang dahsyat bagi inspirasiku
Ibu,
Kala aku kanak-kanak, kau tuntun aku dengan prilakumu yang elok
Kau rendra hari-hariku dengan kasih sayangmu yang utuh
Dongeng-dongeng yang kau ceritakan tentang makna kehidupan
Kala menghantarku beranjak kealam tidurku
Seolah terpahat direlung-relung hatiku
Memberikan pencerahan yang indah dalam warna jiwaku
Ibu,
Saat aku remaja dan kenakalanku menjelma
Dengan sabar kau menasehatiku dan bukan mencaciku
Petuahmu mengalir seperti udara yang menyejukan kalbu
Meski kau bukan filosof namun kata-katamu sebijak para pujangga
Walau kau bukan professor namun analog-analogmu secerdas para ahli
Jiwa pemberontakanku menjadi luntur karena kebijakanmu
Ibu,
Kini aku telah mandiri, dengan seabrek gelar dan kepangkatan
Lalu munculah sifat sombongku terhadapmu
Aku mulai enggan menuruti nasehatmu, dan kuanggap sebagai angin lalu
Aku merasa lebih pintar, lebih ahli dan lebih mengerti darimu
Aku tak mau lagi mendengar petuahmu, yang kuanggap telah usang dan ketinggalan jaman
Aku mengguruimu dengan dalil-dalil agama
Aku menuturimu dengan teori-teori ilmiah
Karena aku merasa bahwa aku adalah manusia generasi modern dan engkau berasal dari generasi masa lalu
Ibu,
Sungguh tak pantas aku berbuat demikian
Sungguh tak elok aku memperlakukanmu seperti itu
Aku tak akan mampu membayar dengan berapapun hartaku atas setetes air susu yang telah kau tetekan ditenggorokanku
Aku tak mungkin bisa mengganti dengan seluruh pengabdianku padamu atas ketulusanmu membersihkan kotoran-kotoran masa kecilku
Ibu,
Maafkanlah semua kesombonganku
Dalam kesadaranku yang baru hinggap ini
Ijinkanlah aku bersimpuh dikakimu

31 January 2010

KEPADA JASADKU

Jasadku,
engkau adalah sahabat sekaligus kekasihku
bersama kita arungi hidup yang fana
berenang dalam comberan waktu
mengais di sampah-sampah kehidupan

Jasadku
kala-ku senang kau pun bahagia
kala-ku sedih kau cucurkan air mata
kala-ku sakit kau pun menjerit
kala-ku resah kau menggigil gelisah

Jasadku
bila kau terluka akupun merana
bila kau terhina marahku melanda
bila kau menderita akupun sengsara
bila kau bahagia senangku tak terkira

Jasadku
suatu saat nanti kita pasti berpisah
akan kutinggalkan kau diranjang kematian
sendirian kau akan dilapukan oleh jaman
sementara aku akan terbang menuju kekekalan
entah kekekalan yang indah atau kekekalan yang menyakitkan.

Doha, 28 January 2010

INFERIORITY

aku memang belum pantas berkelana di lembah-Nya,
atau untuk sekedar mengetuk dipintu-Nya,
aku takut keindahannya ternoda,
oleh kotoran jiwaku,
oleh sampah ulahku,
untuk berjalanpun terasa berat,
kakiku dibandul oleh beban dosa yang berat.
tapi aku akan terus mencoba meski tertatih-tatih,
merangkak dalam harap dan cemas,
bukan karena aku tak tahu diri,
tapi karena kuyakin cinta-Nya tiada batas

Doha, 28 January 2010

NERAKA, TEMPAT KEMBALIKU

Kulihat tubuhku diseret dengan kejam
Oleh wajah-wajah yang bengis lagi beringas
Tanganku dirantai, kakiku dibelenggu
Tubuhku dicambuk dan dilempari dengan batu

Rasa sakit dan perih tak terperi
Namun segala siksa dan azab terus mendera
Didepanku menunggu jurang lebar yang menganga
Dipenuhi dengan batu-batu api yang menyala-nyala

Aku tak bisa lagi sambat
Mulutku telah tersumbat oleh rasa sakit yang hebat
Aku tak kuasa untuk mengeluh
Lidahku telah kelu dibalut perih yang membeku

Wajah-wajah yang bengis berkata:
Wahai Rudi inilah tempat kembalimu “Neraka”
Tempat dimana para munafik berada
Tempat kepalsuan dan semua topeng dibuka

Kau sholat hanya agar kau disebut taat
Kau berpuasa supaya kau disebut zuhud
Kau bersedekah mengharapkan gelar dermawan
Kau pergi haji agar semua orang menaruh hormat

Kau berdakwah biar semua orang menganggapmu alim
Kau berpuisi memuji Allah supaya kau disebut sang Pecinta
Kau mengobral kebaikan agar kau dimuliakan
Kau berjuang dijalan-Nya agar kau disebut mujahid

Tapi Allah Tahu bahwa semua yang kau lakukan itu palsu
Dia mengawasi semua yang tersembunyi dalam hatimu
Dia melihat segala yang terbetik dalam isi kepalamu
Wahai Rudi inilah tempat kembalimu:
“NERAKA”

Doha, 26 January 2010

KESADARAN

Kurutuki takdir yang menurutku tak memihaku
Kusumpahi waktu yang kuanggap melecehkanku
Kuserapahi keadaan yang kurasa mempermainkanku
Kuludahi perjalanan yang kuyakin membosankanku
Hingga akhirnya aku tersadar bahwa perjalanan, keadaan,
waktu dan takdir adalah bagian dari kehidupanku.

Doha, 27 January 2010

SKETSA KEMATIAN

Kematian menunggu diujung jalan
Wajahnya memandangku menyeramkan
Kucoba untuk menghindar darinya
Namun kakiku semakin melangkah kesana

Sang maut bersembunyi disudut gelap
Menanti jiwaku datang terlelap
Kupaksa mataku untuk terus terjaga
Tetapi rasa kantukku semakin mendera

Kereta ajal melaju pasti
Menunggu rohku terkapar mati
Kuberlari di lorong-lorong harapan
Kepada siapa kuharapakan pertolongan ?

Liang kubur beraroma busuk
Mengundang jasadku terperangkap masuk
Kubersembunyi di dalam benteng yang kokoh
Dan maut menemukanku lalu menyeretku dengan gagah

“ Kullu Nafsin Dzaaiqatul Mauut “

Doha, 19 January 2010

EKSTASE

Kupeluk kesendirian
angin yang mendesis membawa celoteh malam
jarum jam seperti ritme dengan nada yang tak indah
dinding-dinding kamar membias cahaya yang temaram

Kurayu sepi
dengan tumpukan-tumpukan rindu yang menggumpal
wajah-Mu timbul tenggelam tersamar dalam balutan gelisah
antara ya dan tidak kuberanikan diri untuk mengecup-Mu

Kubuka jendela
pada langit yang cerah kulihat bintang-bintang menari
sedangkan rembulan meski tak benderang tetap terlihat indah
aku merasa bahwa malam ini Kau akan menjadi miliku

Kutelanjangi diriku
agar lebih nikmat kala mencumbu rayu diri-Mu
malam kian membisu membungkusku dalam hasrat yang membuncah
tiada lagi suara, semuanya hening, hanya desah nafasku dalam peluk-Mu

Doha, 12 January 2010

CINTAKU PALSU

Cintaku pada-Mu seperti cendawan di musim penghujan
hanya tumbuh disaat aku butuh.
Rinduku pada-Mu penuh dengan kepalsuan
kusembunyikan dibalik topeng ketaatan
Kupuji diri-Mu dengan slogan-slogan kemunafikan
kupamerkan dengan sombong dan arogan
Kurayu diri-Mu dalam puisi-puisi palsu
kupahat pada dinding-dinding kosong jiwaku
Dengan bangga kusebut Kau sebagai kekasih
Tetapi aku memperlakukan-Mu seperti keranjang sampah
Tempat kubuang semua keluh kesah dan sumpah serapah

Wahai (yang kuanggap) Kekasih
Engkau tahu bahwa aku tak bisa bersungguh-sungguh mencinta-Mu
Engkau tahu bahwa aku hanya berpura-pura memuja-Mu
Engkau tahu bahwa dibalik sujudku tersimpan kepongahanku
Engkau tahu bahwa dalam persembahanku terselip racun kebencianku

Duhai (yang kupaksa) Kekasih
Saban hari Kau curahi aku kasih sayang-Mu
Dan saban hari pula aku mencaci maki diri-Mu
Setiap waktu Kau limpahi aku karunia-karunia-Mu
Dan setiap waktu pula aku berpaling dari-Mu

Wahai (yang kukira) Kekasih
Apatah pantas aku berlari dari-Mu
Apatah bisa aku bersembunyi dari-MU
Apatah mampu aku menghindar dari-Mu
Jika nanti Kau memanggilku
Perlakukan aku seperti kekasih-Mu
(meski hanya pura-pura)

Doha, 15 November 2009

KEPADA SUNYI

Dalam desiran angin gurun, kupahat kerinduanku
Senandung lirih pohon-pohon kurma, memapah gelisahku
Gedung-gedung tua membisu, memasung laraku
Kepada Sang Pemilik sunyi kuadukan semua keresahan ini

Doha, 15 November 2009

PUISI CECAK UNTUK KEKASIHNYA

Diajeng,
Tembok putih ini menjadi saksi bisu
Kisah kasih kita berdua
Saat kita merayapinya bersama-sama
Berburu Nyamuk (penghisap darah)
Berburu Wereng (hama perusak)
Dan sesekali menangkap kecoak (yang mengotori perkantoran)

Diajeng
Dinding ini adalah layar kehidupan kita
Tempat kita berpetualang sepanjang waktu
Membersihkannya dari serangga-serangga
Yang berusaha mengotorinya

Diajeng
Kemarin sudah kuingatkan kau
Jangan berburu diatas lantai
Lantai bukan habitat kita
Lantai tempat berbahaya bagi kita berdua

Diajeng
Mestinya kau tahu, bahwa diatas lantai
Ada kucing Garong yang selalu mengintai
Yang setiap saat bisa menerkam kita
Dari berbagai penjuru

Diajeng
Maafkan aku, yang tak bisa menolongmu
Kala kucing Garong menerkammu malam tadi
Aku tak kuasa untuk melawannya
Aku tak cukup kuat untuk menandinginya
Sekali lagi maafkan aku diajeng.

Diajeng
Kini tak kudapati kau disisiku lagi
Aku mesti sendiri meredam sepi
Cicak tua yang tak lagi perkasa
Merayapi dinding yang mulai kotor dan bernoda

Doha, 10 November 2009

HIKAYAT SECANGKIR KOPI

Musim dingin menghajar
Matahari tak mampu menghangatkan
Angin seperti freezer alami
Tembok-tembok tebal tak kuasa menghalangi

Secangkir kopi panas, leleh dilidahku
Pagi terasa dingin membeku
Dari balik jendela, kulihat wajah kota
Yang sibuk berdandan seperti gadis muda yang dimabuk cinta

Secangkir kopi menemaniku
Mengusir sepi dan gelisah hati
Kucoba menyapa pagi dengan senyum yang kupaksakan
Dia tak membalasnya, acuh tak acuh dia melengos pergi

Secangkir kopi tinggal seperempat isi
Tumpukan kertas berserakan diatas meja
Laptopku masih menyala
Hasratku makin membara menulis bait-bait kata

Secangkir kopi seperti ilusi
Membius angan-anganku
Menenggelamkanku dalam barisan kata
Tanpa makna

Doha, 5 November 2009

KERENDAHAN HATI

Jangan kau sanjung puji diriku
Sebab sanjung puji itu seperti ribuan pedang
Yang menusuk-nusuk hatiku dan akan membuatnya mati
Sebaiknya kau caci maki saja diriku
Karena caci maki itu terasa bagaikan belaian bidadari
Membuatku bergairah untuk hidup dan berkarya lagi.

Doha 21 October 2009

RINDU

Kabut Debu, Angin Menderu
Langit Pekat, Matahari Tersekat
Hari Berlalu, Rinduku Membeku
Senyummu Terbayang, Anganku Melayang.
Kujangkau, Tak Terjangkau
Kuraih, Tak Teraih
Kudiam, Bayangmu Semakin Terngiang

Doha, 12 October 2009

TAMAN BUNGA

Lama kutunggu saat dimana kau dan aku
Berada di taman bunga cinta kita
Kumainkan kecapi mendendang lagu
Dan kau bersenandung dalam iramanya.

Kuncup-kuncup bunga bermekaran
Warna-warninya membias keindahan
Aroma wanginya memancarkan kegairahan
Kupu-kupu dan kumbangpun menari kegirangan

Sepasang angsa berenang dalam kolam cinta mereka
Sementara kita semakin hanyut dalam lagu kasmaran
Jangan hiraukan langit yang memandang penuh iri
Kita abaikan saja angin yang mendesah cemburu

Doha, 20 October 2009

GEMPA SUMBAR & JAMBI

Rembulan pucat pasi
Langit muram meredam sunyi
Desir angin seolah berhenti
Amarah laut ditelan Bumi
Ratusan orang terkapar mati
Wajah-wajah tersaput duka hati
Hanya pada-Mu kami berserah diri

Doha, 02 October 2009

SAJAK KAUM PINGGIRAN

Malingpun punya mimpi, punya cita-cita
Lontepun punya harapan, punya cinta
Pengemispun punya asa, punya rasa
Sebelum kau tangkap para maling itu
Selidik dulu kenapa mereka mencuri
Karena “ lapar ” atau karena “ hobi ”
Sebelum kau rendahkan para lonte itu
Cari tahu dulu kenapa mereka melacur
Karena “ dijual ” atau karena “ menjual ” diri
Sebelum kau usir para pengemis itu
Tanya dulu kenapa mereka mengemis
Karena “ terpaksa ” atau karena “ dipaksa ”

Doha, 02 October 2009

http://oase.kompas.com/read/2010/02/16/21371676/Puisi-puisi.Rudi.Setiawan


Rudi Setiawan

Kumpulan Puisi Rudi Setiawan di Kompas

Rudi Setiawan, ST lahir pada tanggal 02 Juni 1976 di Kertosono Jawa Timur, seorang Tenaga Teknik yang pernah bekerja di PT. PAL Indonesia, kemudian di Galangan Kapal di Malaysia, dan saat ini sedang bekerja di Doha Qatar. Dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan di bagian teknik, tidak menguranginya untuk menulis puisi & cerpen yang berkaitan dengan keadaan dan situasi di sekitarnya.

Lokasi yang jauh, tidak mengurangi keakraban Rudi Setiawan dengan teman lamanya. Jalinan persahabatan dengan teman-teman tetap terjalin secara online, baik itu di yahoo mail, yahoo messenger maupun facebook. Dan teman-teman di sini, selalu menunggu ke pulangannya untuk makan-makan gratis bersama.

Salam dari Arief Eko Wahyudi, Risdiono, Adenandra, Asis Sunyoto, Mulyo, Sampun, Subagyo dan semua teman-teman lainnya. Semoga sukses selalu.


Puisi terbaru Rudi Setiawan :

PERJALANAN

(mula-mula)
Bersama debu

Larut dalam gemulai angin

Mendesahkan suara-suara perjalanan

(selanjutnya)
Dendang dedaunan
Menabur senja nan gemuruh
Menakar bayang malam yang mulai luruh

(lalu)
Mentari menyurut
Warna cakrawala membias merah
Wajah langit berkabut resah

(pada akhirnya)
Diujung jalan
Tapak kaki yang mulai letih terhenti
Menanti laju kereta datang menghampiri

(menuju)
Rumah mungil
Tempat peristirahatan panjang
Baringkan jiwa dalam kesunyian

Doha, 16 February 2010


Post Update :
Date : Friday, August 1, 2014 - Jumat, 1 Agustus 2014
Posted in: other



Related posts "Kumpulan Puisi Rudi Setiawan di Kompas":


17 Comments on "Kumpulan Puisi Rudi Setiawan di Kompas"

Trackback | Comments RSS Feed

  1. batiknovita.com says:

    Makasih sharing kumpulan puisinya.
    Inspiratif… !!

    [Reply]

    ariefew Reply:

    aku sendiri gak tahu kalau dia itu bisa mbuat puisi :D

    [Reply]

  2. yoxx says:

    puisi galangan kapalnya sangat..sangat kusuka.. terimakasih sudah berbagi…

    [Reply]

  3. Davin Risy Al Hanif says:

    Wah lumayan buat tugas sekolah makasih ya………………..

    [Reply]

    ariefew Reply:

    sama-sama…
    semoga dibaca oleh Mas Rudi yang di Qatar

    [Reply]

  4. yini mayyashlah says:

    hmmmm, , , makasih ya puisi-puisinya membantu saya menngerjakan tugas kuliah ^_^
    Oh’y klo punya karya baru kirim-kirim ya ke alamat e_mail ku, hhe e

    semoga sukses ^_^,

    [Reply]

  5. Evita Destyani says:

    bagUS bANgeT puisI nYa GiMaNA tUcH cARANyA……….???????

    [Reply]

  6. ADJIE VALERIA says:

    Bagus -bagus puisinya cuma tolong puisi budi pekertinya di banyakkan lagi ! tks y !

    [Reply]

  7. Amalia says:

    bagus banget puisinya…! aku suka
    mas rudi bisa jd inspirasi ku nih.. kalo pnya karya baru kirim ke alamat e-mail ku ya..
    thanks :D

    [Reply]

  8. Amalia says:

    bagus bgt puisinya.. aku suka
    kalo ad karya baru kirim ke alamat e-mail ku ya
    thanks :D

    [Reply]

  9. yolan says:

    aku gak tau gmana lgi puisi’y bgus”
    klo Q pke puisi tu nanti guru’y tau dech

    [Reply]

  10. opik hidayat says:

    boleh bergabung nda mas tuk kirim Puisi or Cerpen ????

    [Reply]

  11. opik hidayat says:

    boleh bergabung nda mas untuk kirim Puisi or Cerpen ????

    [Reply]

  12. ian says:

    TQ puisi nya

    [Reply]

  13. santi says:

    wah puisimu ada yang lucu mas, kebo, membuatku sempat tertawa terbahak2 ga tahu kenapa saya langsung membayangkan kebo2 di sawah daerahku dan yang bewrjudul kupanggil kau dancuk, saya suka banget dengan akhirnya, kusumpahi dengan cinta. good luck mas dengan puisi2 nya yang baru ya

    [Reply]

  14. relina says:

    kak puisi yang bertemakan pendidikannya ada apa ngk ?

    [Reply]

  15. relina says:

    cepat di bls ya… ;)

    [Reply]

Post a Comment


3 + 6 =